Sabtu, 29 Oktober 2011

LAPORAN PENDAHULUAN OKSIGENASI DENGAN MASALAH POLA NAFAS DAN BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF



LAPORAN  PENDAHULUAN
OKSIGENASI DENGAN MASALAH POLA NAFAS DAN BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF






 



















Disusun Oleh:
Dewi Maryatul Qivia




DIII KEPERAWATAN
STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
2011
A.    PENGERTIAN
Oksigenasi merupakan proses penambahan O2 ke dalam system (kimia atau fisika). Oksigen merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel. Pemberian O2 Binasal merupakan pemberian oksigen melalui hidung dengan kanula ganda. (2007, Iqbal Wahid. Buku Ajar KDM: EGC)
     Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.
Oksigenasi adalah Memasukkan zat asam (O2) ke dalam paru dengan alat khusus
Tujuan pemberian oksigenasi:
1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
2. Untuk menurunkan kerja paru-paru
3. Untuk menurunkan kerja jantung

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERNAPASAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi adalah :
1. Tahap Perkembangan
Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.
2. Lingkungan
Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi daratan, makin rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup individu. Sebagai akibatnya individu pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang meningkat.
3. Gaya Hidup
Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan denyut jantung, demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit paru.
4. Status Kesehatan
Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida maka anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.
5. Narkotika
Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-obat narkotik analgetik, perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.
6. Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan
Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat mempengarhi pernapasan yaitu :
a. Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru
b. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru
c. Transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan dari sel jaringan.
Gangguan pada respirasi yaitu hipoksia, perubahan pola napas dan obstruksi sebagian jalan napas.
Hipoksia yaitu suatu kondisi ketika ketidakcukupan oksigen di dalam tubuh yang diinspirasi sampai jaringan.
Sianosis dapat ditandai dengan warna kebiruan pada kulit, dasar kuku dan membran mukosa yang disebabkan oleh kekurangan kadar oksigen dalam hemoglobin. Oksigenasi yang adekuat sangat penting untuk fungsi serebral. Korteks serebral dapat mentoleransi hipoksia hanya selama 3 - 5 menit sebelum terjadi kerusakan permanen. Wajah orang hipoksia akut biasanya terlihat cemas, lelah dan pucat.
7. Perubahan pola nafas
Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama jaraknya dan sedikit perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang terdapat napas cuping hidung karena usaha inspirasi yang meningkat, denyut jantung meningkat. Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan berdiri seperti pada penderita asma.
8. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang saluran pernapasan di sebelah atas atau bawah
 Mempertahankan jalan napas yang terbuka merupakan intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan yang tepat. Onbstruksi sebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara mengorok selama inhalasi (inspirasi).




C. FISIOLOGI PERNAFASAN
1. Struktur Sistem Pernafasan
a. Saluran pernafasan atas
Fungsinya adalah menyaring, menghangatkan dan melembabkan udara yang dihirup. Terdiri dari :hidung, farin, laring, epiglottis
b. Saluran Pernafasan bawah
Fungsi adalah menghangatkan udara, membersihkan mukuosa cilliary, memproduksi surfactant. Terdiri dari : trachea, bronchus, paru
Pernafasan eksternal mengacu pada keseluruhan proses pertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal, dan sel tubuh. Secara umum, proses ini berlangsung dalam 3 langkah, yaitu:
a.)    Ventilasi Pulmoner. Udara bergantian masuk keluar paru-paru melalui proses ventilasi sehingga terjadi proses pertukaran gas antara lingkungan eksternal dan alveolus.
b.)    Pertukaran gas alveolar. Setelah oksigen masuk alveolus, proses pernafasan berikutnya adalah difusi oksigen dari alveolus ke pembuluh darah pulmoner. Difusi adalah proses pergerakan molekul dari area berkonsentrasi atau bertekanan tinggi ke area berkonsentrasi atau bertekanan tinggi ke area berkonsentrasi rendah. Proses ini berlangsung di alveolus dan membrane kapiler.
c.)    Transpor oksigen dan karbondioksida. Pada proses ini oksigen diangkut dari paru menuju jaringan dan karbondioksida diangkut dari jaringan kembali menuju paru-paru.
d.)   Transpor O2. Normalnya, sebagian oksigen (97%) berikatan lemah dengan hemoglobin dan diangkut ke seluruh jaringan dalam bentuk Oksihemoglobin (HbO2), sisanya terlarut dalam plasma. Proses ini dipengaruhi oleh Ventilasi (jumlah O2 yang masuk ke paru) dan perfusi (aliran darah ke paru dan jaringan). Kapasitas dara yang dibawa oksigen dipengaruhi oleh jumlah O2 dalam plasma, jumlah Hemoglobin (Hb), dan ikatan O2 dengan Hb.
Transpor CO2. karbondioksida hasil metabolisme terus menerus diankut menuju paru-paru melalui 3 cara: sebagian besar karbondioksida (70%) diangkut dalam sel darah merah dalam bentuk bikarbonat (HCO3-), sebanyak 23% karbondioksida berikatan dengan hemoglobin membentuk karbaminohemoglobin (HbCO2), Sebanyak 7% diangkut dalam bentuk larutan di dalam plasma dalam bentuk asam karbonat.
Pernafasan internal atau pernafasan jaringan mengacu pada proses metabolisme intrasel yang berlangsung dalam mitrokondria, yang menggunakan O2 dan menhasilkan CO2 selama proses penyerapan energi molekul nutrient. Pada proses ini darah yang banyak mengandung oksigen dibawa ke seluruh tubuh hingga mencapai kapiler sistemik. Selanjutnya terjadi pertukaran O2 dan CO2 antara kapiler sistemik dan sel jaringan. Seperti dari kapiler paru, pertukaran ini juga melalui proses difusi pasif mengikuti penurunan gradient tekanan parsial.

D.MANIFESTASI KLINIS
a. bunyi nafas tambahan ( misalnya ronki basah halus, ronki basah kasar )
b. perubahan pada irama dan frekuensi pernafasan
c. batuk tidak ada atau tidak efektif
d. Sianosis
e. Kesulitan untuk bersuara
f. penurunan bunyi nafas
g. ortopnea
h. sputum

E. FOKUS PENGKAJIAN
1. Riwayat Keperawatan
a. masalah pernafasan yang pernah dialami
Pernah mengalami perubahan pola perrnafasan
·         Pernah mengalami batuk dengan sputum
·         Pernah mengalami nyeri dada
·         Aktivitas apa saja yang menyebabkan terjadinya gejala2 diatas
b. Riwayat penyakit pernafasan
·         Apakah sering mengalami ISPA, alergi, batuk, asma, TBC
·         Bagaimana frekuensi setiap kejadian
c. Gaya Hidup
·         Merokok, keluarga perokok, lingkungan kerja dengan perokok
2. Pemeriksaan Fisik
a. Mata: konjungtiva pucat ( karena anemis ), konjungtiva sianosis ( kerena hipoksia )
b. Kulit: sianosis perifer, penurunan turgor
c. mulut dan bibir: membrane mukosa sianosis, bernafas dengan mengerutkan mulut
d. Dada
·         Retraksi otot bantu pernafasan (karena peningkatan aktivitas pernafasan, dispnea, atau obstruksi jalan pernafsan)
·         \pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan
·         Traktil fremitus, thrills (getaran pada dada karena udara/suara melewati saluran/rongga pernafasan)
·         Suara nafas normal (vesikuler, bronchovesikuler, bronchial)
·         Suara nafas tidak normal
·         Bunyi perkusi ( resonansi
e. pola pernafasan
   a. pernafasan normal
   b. pernafasan cepat
   c. pernafasan lambat

F.DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan nafas:
spasme jalan nafas, sekresi tertahan, penumpukan sekret/ banyaknya mukus,
adanya benda asing dijalan nafas.
2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi, hipoventilasi, 
     Kelelahan
3. Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi, perubahan membran kapiler alveolar.


























G.INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan nafas:
spasme jalan nafas, sekresi tertahan, penumpukan sekret, adanya benda asing di
jalan nafas.
   Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif teratasi, dengan
   Kriteria hasil: mendemonstrasikan batuk efektif, dan suara nafas bersih, tidak ada sianosis dan dispnea.
Menunjukan jalan nafas yang paten.
Intervensi:
  1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi misal: semifowler.
  2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
  3. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
  4. Auskultasi suara nafas dan  catat adanya suara nafas tambahan misal ronkhi
  5. Berikan bronkodilator bila perlu
  6. Kolaborasi dalam pemberian terapi 02.

2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi, hipoventilasi, 
     kelelahan
  Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien menunjukan  keefektifan pola nafas , dengan
Kriteria hasil:
  1. Suara nafas bersih
  2. Tidak ada siaonsis, dispnea
  3. Menunjukan jalan nafas yang paten (tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal).
  4. TTV dalam rentang normal
Intervensi:
  1. Monitor vital sign
  2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
  3. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
  4. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
  5. Auskultasi suara nafas dan  catat adanya suara nafas tambahan
  6. Pertahankan jalan nafas yang paten
  7. Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
  8. Berikan bronkodilator bila perlu
  9. Kolaborasi dalam pemberian terapi 02

3. gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi, perubahan membran kapiler alveolar.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah keperawatan gangguan pertukaran gas teratasi dengan
Kriteria hasil: mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat, suara nafas bersih, tidak ada sianosis dan dispneu, TTV dalam rentang normal,
Intervensi:
  1. Beri posisi ventilasi maksimal.
  2. Keluarkan sekret dengan batuk atau section
  3. Auskultasi suara nafas, dan catat adanya suara nafas tambahan
  4. Monotor pola nafas bradipnea, takipnea,
  5. Monitor TTV, AGD
  6. Observasi sianosis
  7. Kolaborasi bronkodilator, nebulezer, dan terapi oksigenasi
























DAFTAR PUSTAKA

Iqbal, Wahit dan Nurul hayatin. 2007. “Buku Ajar KDM Teori dan Aplikasi
dalam Praktek”. Jakarta: EGC.
      Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga Jilid 2. Media
            Aesculapius: Jakarta
     NANDA, 2006. Diagnosa Keperawatan. PSIK-FK UGM: Yogyakarta
     Wartonah, Tarwoto.2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses kepertawatan,  
edisi 3. Jakarta:Salemba Medika
      Wilkinson, J.M, 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi
NIC dan Kriteria Hasil NOC. EGC: Jakarta





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar